• Home
  • /
  • Thoughts
  • /
  • Selamat Tiga Tahun Jadi Ibu, Kenya! Happy Birthday, Nyala!
Happy birthday Nyala

Selamat Tiga Tahun Jadi Ibu, Kenya! Happy Birthday, Nyala!

Besok Nyala ulang tahun yang ke-3. Aku tiga tahun menjadi ibu. Baru kali ini aku mengamini kata-kata ini: the days are long but the years are short. I couldn’t agree more. Kalau melihat folder foto Nyala saat masih bayi, aku suka kaget sendiri, ke mana bayi kecil yang nemplok terus 24/7 itu pergi? sekarang sudah jadi threenager dengan lika-liku kehidupannya. Begitu pun saat melihat foto anak-anak teman yang beranjak ‘remaja’ hampir lima atau enam tahun usianya. Biasanya dengan antusias aku meninggalkan komen annoying di instagram post : CEPET BANGET SI XO GEDENYA, HOW TIME DOES FLY! nggak lebay, tapi sungguh aku seantusias itu dengan waktu yang terasa cepat berlalu. *Terngiang penggalan puisi W.H Auden o, let not time deceive you, you cannot conquer time (pakai suara Tom Hiddleston)

Happy birthday Nyala

Masih kuingat betul cerita kawan-kawan saat baru jadi ibu. Bagaimana mereka mencoba berdamai dengan kebosanan, rutinitas baru merawat bayi, tidak menjadi diri sendiri, rasa insecure yang kerap menghampiri, dan bagaimana Indomie telur keju pakai cabe rawit sepuluh jadi dopping hampir setiap hari. Sekarang? bayi-bayi kecil itu sudah bisa diajak makan gudeg bareng!

Menurut penulis Italia, Italo Calvino, every experience is unrepeatable, dan bukti nyata terasa saat mengurus bayi. Sebulan pertama Nyala lahir, aku masih kelelahan dan sibuk beradaptasi dengan peran baru. Saat itu aku merasa bayi kecil akan kecil selamanya. Aku tidak sabar menanti bayi ini tumbuh jadi besar dan nggak harus digendong ke mana-mana, jadi paling nggak, bisa nafas sedikit (dulu, mau pipis aja susah banget :))

Kilas balik ke masa-masa itu, aku sadar banget kalau ternyata I missed the joy of being a new mother. Sedih, lho, kalo dirasa-rasa. Gimana tuh rasanya menggendong bayi kecil nan fragile? senang, sih, cuma kenapa yang banyak kuingat adalah saat aku mengeluh karena terlampau lelah? Aku nggak ingat detil-detil lain yang harusnya bisa kuingat dengan baik. Well, we live as it is, we live life as it comes by.  Masalahku saat itu adalah aku nggak tau caranya ‘hadir’ atau being present. Aku melek, tapi aku belum sadar. Aku lelah, tapi alih-alih istirahat supaya tenaga pulih, aku sibuk mengkhawatirkan banyak hal. Aku menggendong & menyusui Nyala kecil tapi pikiranku ada di tempat lain. Sepele? it was a big loss. 

Aku ingat aku pernah bilang begini ke salah seorang kawan, “Orang-orang bilang kalau punya anak, kita bisa melihat dunia. Mana, mak?”, pertanyaanku itu disambut dengan ajakan makan Indomie keju cabe rawit. Sungguh ingin rasanya kucubit diriku yang dulu. Aku merasa jauh dari hidup, merasa nggak punya kepentingan apa-apa di dunia ini, merasa kecil… merana, deh, pokoknya. Padahal jelas-jelas, ya, di depan mataku ada si ‘hidup’ itu sendiri. Mengutip W.H Auden lagi  the years shall run like rabbits, for in my arms I hold the Flower of the Ages, and the first love of the world. Sekarang, sih, kalau aku ada disitu, aku akan bilang: Hello, Kenya. Memang dunia itu apa, sih? kamu nggak sadar-sadar, ya, kalau dunia itu bermula dari tangisan bayi di pagi buta, suara jangkrik di kebun depan, sore hari yang sedikit gerimis dan popok yang nggak kering di jemuran?

~

Ada masanya aku begitu sering bertanya pada mak-mak seperjalanan “Lo bosen nggak sih ngurusin anak terus?” dan dapat berbagai macam jawaban. Namun ada satu jawaban yang bikin aku berpikir ulang tentang peran ibu yang kujalani. Nindi, kawanku yang sekarang punya dua orang anak lelaki, kelihatan enjoy banget menjalani kesehariannya menjadi ibu. Padahal tadinya, kulihat Nindi adalah tipe orang yang akan lebih pursuing creative life & career, dari pada menjadi ibu.

“Nin, lo nggak bosen ngurus anak terus? lo nggak mau bikin film lagi? nggak mau kayak dulu lagi?”, tanyaku

Lalu dia bilang “Kenya, we are the ultimate source for human to survive on earth. It is all about choices. They’re not small forever. At the end, I got no one to blame but myself, for not choosing my kids over me”

Saat itu aku baru saja selesai membaca buku Mama : Love, Motherhood & Revolution karya Antonella Gambotto-Burke (tentang buku itu bisa dibaca di sini). Mendengar jawaban Nindi yang ada hubungannya sama buku itu bikin mataku panas.

~

Baru saja aku ingin menulis bahwa kayaknya selama tiga tahun belakangan ini aku nggak banyak ngapa-ngapain, deh. Tapi segera kuurungkan untuk menganggapnya seperti itu. Tiga tahun menjadi ibu, aku ternyata belajar banyak, termasuk belajar tentang keterampilan untuk being present, live in the now & self-love. Hal yang kedengarannya sepele, namun ternyata cukup berpengaruh dalam meningkatkan kualitas hidup. Menurutku, ini adalah keterampilan yang harus dimiliki sama ibu-ibu.  Nggak cukup belajar hanya dalam tiga tahun, kemampuan kayak gini harus dilatih seumur hidup karena menyakinkan diri bahwa yes, aku beneran sayang sama diri sendiri, adalah hal yang paling susah dilakukan.

Karena Self-love, latihan hadir & menulis jurnal,  hari-hariku jadi terasa lebih penuh. Aku jadi bisa melihat hal-hal kecil yang seringkali terlewat. Kalau aku pernah lupa bagaimana rasanya menggendong bayi mungil, sekarang aku dapat pastikan bahwa bau yang akan selalu aku ingat sampai nanti adalah wangi pagi di pipi Nyala (baca: iler).

Di tahun ke-3 aku menjadi ibu, selain merayaan ulang tahun Nyala dengan kue Hello Kitty, aku juga ingin merayakan diriku sendiri.

 

 

I blog, therefore I am

Leave a Reply