Menyikapi menghadapi kematian Kehilangan orang tersayang

Yangkung, Yangti dan Menyikapi Kehilangan

We were once together

In a blink of this life

Sudah lewat sebulan Yangkung dan Yangti meninggal dunia. Masih terasa tidak nyata. Dalam benakku, Yangkung masih sibuk berenang di Bintaro dan Yangti asik membaca puluhan buku di kursi panjang kesayangannya. Ingin menuliskan soal ini pun aku masih maju mundur. Mungkin aku belum mampu merasakan lagi kehilangan yang begitu besar hadir saat menyadari bahwa aku sudah tidak memiliki kakek dan nenek.

Yangkung dan Yangti, sama-sama lahir di tahun 1933. Kata orang-orang, manusia empat zaman. Zaman sebelum kemerdekaan, Yangkung naik jeep rampasan dari Belanda keliling Semarang, sementara Yangti merasakan pedihnya rumah  diberangus habis oleh Belanda. Saat Bung Karno jadi presiden, Yangkung rajin mendengarkan pidatonya. Yang jadi favorit Yangkung sepanjang masa adalah kutipan ‘self-reliance, not mendicancy!’ katanya berapi-api. Sementara Yangti, memasang foto Bung Karno yang menurutnya ‘ganteng banget’ di belakang pintu lemari. Di era milenial ini, Yangkung juga merasakan jalan santai pakai Wakai dan jam tangan Swatch. Yangti, yang lebih kalem, masih membaca buku dongeng dan menyanyikan lagu perjuangan yang dibaca dari buku Lagu Wajib Nasional sambil sesekali memainkan Happy Birthday di keyboard kesayangannya.

Yangkung dan Yangti hidup begitu panjang, delapan puluh empat tahun lamanya. Mereka selalu ada dalam setiap momen besar dalam hidupku : ulang tahun, wisuda, menikah dan melahirkan.  Aku juga mengalami dua puluh enam lebaran bersama eyang-eyangku itu. Saat mereka berdua beranjak delapan puluh, aku sering berpikir, apakah ini lebaran terakhirku bersama mereka? Setiap tahun aku berdoa semoga tahun depan masih bisa merayakan lebaran bersama Yangkung dan Yangti. Tapi kali ini doaku tidak terkabul. Mungkin rasa kaasstengels, sambal goreng, opor ayam dengan bubuk kedelai, serta kuah lodeh, tidak akan sama lagi setelah ini.

Yangkung meninggal dunia lebih dulu pada sebuah siang di bulan November. Yangti menyusul empat hari setelahnya. Double, triple, combo kesedihan. Sama sekali bukan November ceria.

Tentang Kehilangan dan Hal-hal Lainnya

Menyikapi menghadapi kematian Kehilangan orang tersayang

image by Kari Shea via Unsplash.com

Saat orang-orang yang kusayang satu per satu pergi, selain kehilangan sosok mereka sehari-hari, aku juga kehilangan banyak sekali cerita tentang mereka. Bagi seorang penulis, kehilangan cerita adalah sebuah tragedi. Entah seberapa sering aku ngobrol sama Yangkung atau seberapa sering aku merekam suara Yangti di alat perekam suara, rasanya masih ada saja bagian cerita yang bolong dan tidak lengkap. Aku bahkan tidak tahu lagu Jim Reeves apa yang paling disukai Yangkung.

Saat pertama melihat tubuh Yangkung terbujur di pembaringan, aku menangis. Jelaslah aku menangis. Bagiku menangis adalah reaksi tubuh yang wajar saat seseorang mengalami kesedihan. Aku sedih sekali kehilangan Yangkung, maka aku menangis. Herannya, banyak orang di sekitar, alih-alih membiarkan aku memasuki fase mourning seintuitif mungkin, malah menyuruhku diam dan berhenti menangis.

Toh aku hanya menangis, bukan meratap.

Saat itu aku begitu ingin menangis, sekerasnya, sepuasnya. Mengalami kematian Yangkung yang sudah menjadi bagian dari identitasku selama ini bukan hal yang mudah. Sulit luar biasa melihat Yangkung terbujur tak bernyawa dengan kulit dan wangi yang masih sama seperti terakhir aku melihatnya. Kenapa masih melarangku menangis dan memintaku untuk bersabar?

Percayalah, seorang yang sedang berduka tidak butuh disuruh berhenti menangis dan diminta  bersabar. Bersabar untuk apa? Duka tak butuh kata sabar, duka hanya butuh air mata. Maka, biarkanlah aku menangis.

Lalu aku menangis seharian, diam-diam. Aku menangis sambil mengenang banyak detail kebersamaanku dengan Yangkung selama ini. Sedih, karena ternyata sepertinya ingatanku tentang Yangkung tidak begitu banyak. It is funny that I think too much these time, but remember too… little. Begitu pun saat Yangti pergi. Lirik My Maudlin Career dari Camera Obscura terngiang di telinga “Oh I don’t wanna be sad again”

Kehilangan ibu itu sedihnya luar biasa, tapi saat kehilangan kakek dan nenek nyaris bersamaan, dunia lucu bukan kepalang. Aku jadi banyak berpikir tentang penyesalan, perasaan-perasan yang tidak tervalidasi, waktu yang dihabiskan tanpa kehadiran mereka, bagaimana mereka akan dikenang, dan lain sebagainya. Lucu, ya, pada akhirnya kesedihan yang terlalu, bisa menyibak begitu banyak hal tentang diri kita sendiri.

Those who are dead, are not dead, they’re just living in my head, begitu kata Chris Martin. Beberapa tahun yang lalu, aku pernah menuliskan daftar orang-orang yang sudah meninggal, dan tahun ini daftarnya bertambah. Kematian, sama seperti jatuh cinta, memang tidak terelakkan. Sedih rasanya mengingat kalau sekarang aku hidup tanpa ibu, tanpa kakek dan nenek. Tapi setelah kupikir-pikir lagi, apa rasanya jadi Yangti yang dari remaja sudah ditinggal ibu dan bapaknya? atau Yangkung yang sejak usia empat tahun sudah tidak bisa bertemu dengan ibunya? Mungkin Bung Karno benar, self-reliance memang dibutuhkan dalam hidup ini.

Yangkung dan Yangtiku sayang, I think of you in every breath I take, in every pulse of my brain. I love you. 

*samar-samar terdengar suara Yangti berucap “I love you too” dengan suara beratnya yang syahdu*

 

 

I blog, therefore I am

4 Comments

Leave a Reply