• Home
  • /
  • Thoughts
  • /
  • Membaca Mama: Love, Motherhood and Revolution
Mama : Love, motherhood, and revolution antonella gambotto-burke

Membaca Mama: Love, Motherhood and Revolution

Catatan : tulisan ini mengandung kemarahan. Nggak apa, dong. Marah itu wajar, marah adalah peluapan emosi. Tulisan ini adalah salah satu upaya embracing my feeling and embracing my femininity. 

Menurutku, jadi ibu pada abad ini dan khususnya di negara ini, sebenarnya susah banget. Iya nggak, sih? Kita hidup di era serba cepat, serba terburu, tak bisa menunggu, sementara, pengasuhan anak membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan kebalikan dari semua hal yang berhubungan dengan kata ‘serba cepat’. Belum lagi kalau hidup di lingkungan yang tidak mendukung perjalanan menjadi seorang ibu (seperti jatah cuti yang cuma tiga bulan, susahnya cari asisten rumah tangga, tidak ada support system, dsb). Lingkungan dan kondisi di mana kita tinggal saat ini, masih jauh dari kata ideal. It takes a village to raise a child, tapi ibu mana yang pernah nggak merasa sendiri membesarkan seorang anak?

Jadi ibu itu idealnya living a stress free life and be happy. Karena dari ibu yang bahagia akan lahir anak-anak yang bahagia juga. Anak-anak yang bahagia akan menjadi pondasi penting bagi berlangsungnya kehidupan homo sapiens di masa mendatang. Tell me, my dear fellow mothers, how to cope with all of these? Di tengah keruwetan dunia yang kulihat dengan mataku dan di tengah orang-orang yang sibuk menyuruhku nambah anak, aku menemukan buku Mama : Love, Motherhood and Revolution karya Antonella Gambotto-Burke.

Buku ini adalah buku pertama yang aku beli melalui bookdepository.com. Butuh waktu sebulan lebih menunggu kedatangan buku ini, tapi menamatkannya tidak butuh lebih dari seminggu. Sama seperti judulnya, Mama : Love, Motherhood, and Revolution, membaca buku ini mengingatkanku bahwa menjadi seorang ibu itu adalah revolusi.

Terpikir atau tidak, jadi ibu di abad ke-21 berarti hidup di tengah-tengah wacana tentang menjadi ibu yang terus menerus ditiupkan oleh berbagai kepentingan. Sorry not sorry, dari mulai yang sepele sampai yang serius, semua tersusupi.Dengan jatah cuti yang cuma tiga bulan, patriarki yang mengakar di mana-mana, tubuh perempuan – terutama ibu, adalah sasaran empuk untuk disusupi banyak kepentingan.

It’s the system, it sucks, dan kita bagian dari semua itu. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga kewarasan dan bisa menjalaninya dengan kesadaran penuh. Namun, yang banyak terjadi di sekitar adalah hilangnya kesadaran untuk tetap berada di jalur yang dipilih. Seringkali aku marah besar sama kejadian-kejadian yang kusaksikan sendiri. Misalnya, seorang ibu yang bekerja merasa less appreciated di tempat kerja karena sedikit-sedikit harus memompa asi (di kamar mandi pula), seorang ibu yang dibilang tidak professional karena memajang foto anak di kubikel, atau, seorang ibu rumah tangga yang terus menerus merasa sedih karena harus bekerja di rumah, sementara ia hidup di dunia yang membuat seakan-akan tinggal merawat rumah bersama anak-anak itu nggak penting.

Memang, wacana-wacana seperti ‘jadi ibu rumah tangga keren’ atau ‘ibu yang bekerja tetaplah seorang ibu’ juga sudah banyak digulirkan ke mana-mana sebagai perlawanan, tapi yang muncul seringkali bukanlah kesadaran atau penerimaan tetapi sering kulihat ada sikap-sikap pesimis cenderung pasrah menerima keadaaan dari banyak ibu (tidak semua, tapi banyak).

Setelah dirunut, sebenarnya masalah besar dimulai saat orang-orang mulai mengesampingkan femininity. Femininity, the breath of life, dipikir hanya urusan perempuan dan jadi urusan ‘belakang’. Aku bosan mendengar debat kusir soal menyusui di depan publik dan aku marah sama orang-orang yang menyuruhku menutup dada saat menyusui. Aku juga bosan diperlakukan sebagai ‘warga kelas dua’ saat harus menyusui atau mengganti popok anak, seakan-akan pekerjaan itu tidak penting dibanding wacana lain tentang ‘mengubah dunia’.Tidakkah orang-orang sadar bahwa perubahan dunia juga dimulai dari proses mengganti popok? proses yang pelan, perlahan dan butuh ketekunan.

Tapi menghargai femininity tak sebatas hanya soal itu saja. We are all feminine, mother earth is also feminine. Berusaha menyingkirkan femininity sama saja mengkhianati ibu sendiri. Mama: Love, Motherhood, and Revolution membantuku menyadari dengan penuh bahwa menjadi orang tua berarti mengekspos seseorang kembali ke  femininity yang selama ini tergerus dunia. Dan itu adalah revolusi.

 

I blog, therefore I am

Leave a Reply