On Being Me

Kapan Nyala Punya Adik Lagi? Eksperimenkan!

Pinterest LinkedIn Tumblr

Ternyata, jadi ibu anak satu pun tak lepas dari tren pertanyaan ‘kapan?’ – dalam kasusku, pertanyaannya adalah “kapan Nyala punya adik lagi?”

Untuk saat ini, aku hanya ingin punya satu anak, dan kurasa nggak ada yang salah dengan hanya punya satu anak. Tapi, banyak orang di sekitarku seperti berusaha membuat pilihanku itu bagaikan sesuatu yang salah, nista, dosa atau pun tidak layak.

Aku bisa saja menjawab pertanyaan itu dengan senyum atau dengan jawaban seperti “Nantilah kalau sudah besar” atau sesederhana “Kapan-kapan” tapi… aku paling nggak tahan untuk nggak bereksperimen – atas nama drama dan kebutuhan akan cerita, hehe

Jadi, kalau pertanyaan itu muncul, aku jawab saja dengan gamblang “Nggak, aku cuma mau punya satu anak”

Dan berikut adalah respon orang-orang menanggapi pernyataan ‘aku cuma mau punya satu anak’

Menghadapi pertanyaan kapan kawin kapan nikah kapan nambah anak kapan kapan
Tanggapan orang-orang terhadap pernyataan ‘Aku cuma mau punya satu anak” yang kukumpulkan dalam kurun waktu 2 tahun (2015-2017)

Sejauh ini, aku baru bertemu satu orang yang penanya yang memang mendukung keputusanku beranak satu. Tak terhitung ada berapa orang yang merespon dengan jawaban nomor satu sampai sepuluh. Lucu, ya, padahal aku belum cerita kenapa aku hanya ingin beranak satu (kurasa mereka juga nggak peduli, sih). Dari respon yang terlontar, kebanyakan orang sibuk dengan saran-saran, ketakutan, dan isi kepala sendiri, tanpa mau mendengarkan. Ada beberapa yang bertanya kenapa, tapi setelah kujawab, respon mereka kurang lebih sama – atau lebih parah; mencemooh kemampuanku jadi ibu.

Sakit hati? Nggak. Ini kan eksperimen. Kurang lebih, aku jadi tahu pendapat ‘kebanyakan’ orang tentang perempuan yang hanya ingin punya anak satu. Kalau mereka kasihan padaku, kasihanilah. Nggak apa-apa, kok. Yang penting, aku tidak mengasihani diri sendiri karena pilihanku.

I know my self.

Kalau dilihat-lihat, beberapa tanggapan di atas penuh dengan rasa takut; takut dengan masa depan yang belum pasti. Mereka takut kalau aku nggak ada yang mengurus dan Nyala akan kesepian. Well, terima kasih sudah dikhawatirkan, but let me tell you one thing untuk nambah-nambah insight. Milan Kundera dalam the Unbearable Lightness of Being  bilang:

There is no means of testing which decision is better, because there is no basis for comparison. We live everything as it comes, without warning, like an actor going on cold. And what can life be worth if the first rehearsal for life is life itself?

Apakah nantinya aku akan kesepian jika cuma punya satu anak? Nggak ada yang ngurus atau apa pun itu seperti kata orang-orang? Nggak tahu. Tapi apakah dengan punya anak lebih dari satu aku juga nggak akan mengalami hal-hal tersebut? Nggak tahu juga. Nggak ada yang pernah tahu. Jadi, kenapa harus melontarkan tanggapan ‘kejam’ atau penuh penghakiman?

Sepertinya, bukan hanya pertanyaan ‘kapan’ penuh selidik nan kepo yang harus dihilangkan, deh. Keinginan untuk komentar penuh penghakiman juga harus masuk ke dalam daftar.

 

 

Penulis pengidap PMDD, slow writing, devoted to process, because what is life but a long journey around the sun. Ngobrol, yuk! reach me @nyalaterang

Write A Comment