Toddler

Montessori at Home : Pertobatan Orang Tua Dimulai di Rumah

Pinterest LinkedIn Tumblr

Mengapa kubilang pertobatan orang tua? Karena kadang – disadari atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari aku masih suka ‘memaksakan’ kehendak pada Nyala. Entah egois, kelewat lelah atau kurang mengamini credo ‘follow the child’or is it just my character?  Well, menjadi orang tua memang seperti masuk ke kampus baru tanpa ada upacara kelulusan.

Membaca dan belajar tentang Montessori membantuku berjuang berlaku lebih adil kepada Nyala; membukakan ruang berpikir bahwa Nyala, si anak kecil dua tahun yang lagi masa toilet training ini, adalah human being juga, sama seperti kita.

Montessori at Home Training di Rumah Aruna

Kuputuskan untuk mengikuti pelatihan Montessori at Home di Montessori Pre-school dekat rumah, Rumah Aruna. Beruntung, Rumah Aruna ini menerapkan sistem pure Montessori – dalam artian mereka mengadopsi keseluruhan filosofi Montessori. Filosofi Montessori yang diterapkan di Rumah Aruna tidak hanya sebatas memakai alat-alat Montessori saja, tetapi tercermin juga dari perilaku guru-guru yang total berperan sebagai Montessori Directress.

Menjalani  pelatihan intensif yang diajar oleh Ms Eva Sidabutar, sang kepala sekolah, membuatku semakin percaya bahwa metode Montessori memang dibutuhkan oleh anak-anak (dan juga orang tua!). Montessori menawarkan ketenangan dan fokus di dunia yang penuh distraksi ini. Aku merasakan sendiri sulitnya fokus mengerjakan satu hal sampai tuntas – ini dendam berkepanjanganku sebagai manusia, ha! Seorang teman  pernah bilang kalau kita ini hidup menuntaskan dendam masing-masing – bisa jadi ia benar, karena menjalani peran sebagai orang tua yang paling aku inginkan adalah Nyala memiliki motivasi diri tinggi dan bisa fokus dengan pekerjaan yang dilakukan. Kenapa? karena setiap hari selama hampir 30 tahun hidupku adalah perjuangan untuk fokus dengan sebuah pekerjaan, what a torture.

Fokus adalah masalah konsentrasi.  Berkaitan dengan yang Montessori pernah bilang ; the child who concentrates is immensely happy. Fokus yang ditanamkan oleh metode Montessori sejak dini memang harus diterapkan dengan konsisten. Saat anak sudah bisa ‘bekerja’ tanpa menghiraukan kehadiran orang di sekitarnya dan menyelesaikan satu siklus pekerjaan dengan tertib, itu tanda-tanda metode ini bekerja. Jawaban bagi kegalauan orang tua yang merasa bahwa attention span anak sangat pendek.

Sekarang, setiap bangun pagi, aku merapal mantra sederhana “I’m a Montessori Directress” supaya bisa menjalankan peran sebagai ibu yang ber-Montessori di rumah. Mantra sederhana ini membantuku untuk mengatur emosi negatif yang sering menjalar di luar kendali. Pretty tough, huh? Doakan aku, ya, supaya sukses ber-Montessori di rumah. Ibu-ibu di sini ada yang menerapkan Montessori di rumahkah? boleh, dong, dibagi pengalamannya!

Penulis pengidap PMDD, slow writing, devoted to process, because what is life but a long journey around the sun. Ngobrol, yuk! reach me @nyalaterang

Write A Comment