Travel

Jalan Lain ke Pantai, Bukan ke Hatimu

Pinterest LinkedIn Tumblr

Beberapa kali aku menjadikan Cimaja sebagai latar cerita yang bernuansa summer fling untuk cerpen-cerpen terdahulu, padahal aku belum pernah menjejakkan kaki ke sana. Ide tentang Cimaja kudapat dari hasil ngobrol dengan teman-teman yang suka banget surfing. Konon, ombak pantai Cimaja cantik banget kalau dilihat dari kacamata seorang surfer. Tapi, kalau untuk yang bukan surfer, ada apa, sih, di Cimaja? Setiap kali ada yang bertanya seperti itu, aku jawab sambil berseloroh; ada surfer boy kece lagi cek ombak. Betulkah?
Bisa jadi iya, bisa jadi tidak. Tergantung musim dan apa tujuanmu ke sana, hehe. Minggu kemarin, aku dan Fira pergi ke Cimaja to take some photographs, sekalian menyambangi Panji yang resmi jadi warga Cimaja. Perjalanan kami dari Bogor ke Cimaja ditempuh dalam waktu enam jam naik mobil. Lumayan pegel, sih. Untungnya, Nyala lumayan kooperatif di jalan, walau tak dipungkiri, jalan-jalan sama toddler nan aktif itu capeknya… tak terdeskripsikan!

Day 1 – Semalam di Biker’s Waroeng

Hari masuk rembang petang saat mobil kami memasuki wilayah Pelabuhan Ratu. Aku dan Fira yang literally pegel di mobil bersorak kegirangan saat akhirnya melihat tepi pantai. Sore itu kami dijemput oleh salah seorang kawan, Alexis, yang langsung mengantar kami ke penginapan. Namanya Biker’s Waroeng , letaknya persis di tepi pantai.
Aku agak kaget saat melihat kamar yang akan kami tempati. Kamarnya terbuat dari bambu, mirip seperti warung makan pinggir jalan. Di dalamnya ada dua tempat tidur berkelambu dan sebuah kipas angin. Tidak jelek, cuma agak terlalu ‘sangar’ buat toddler seperti Nyala. Kamar mandi pun adanya di luar. Tadinya kupikir akan merepotkan, tapi ternyata nggak juga, sih. Karena sepi, kita bisa going completely naked keluar dari kamar mandi dan ganti baju di kamar, haha.
Sebenernya seru juga menginap di Biker’s Waroeng yang lebih cocok dinamai Surfer’s Waroeng ini. Karena letaknya persis banget di pinggir pantai, suara ombak terdengar tanpa henti. Jendela kamar yang bisa dibuka ke arah luar membuat tampilan kamar kami jadi beneran kayak warung. Apalagi saat itu Fira membawa perlengkapan dapur, lengkap sampai kompor dan tabung gas 3 kilo, wuih, siap, deh, buka warung makan!

bikers waroeng cimaja pelabuhan ratu sukabumi west java jawa barat
Penampakan bagian depan kamar di Biker’s Waroeng

Malam itu aku nggak bisa tidur. Bukan karena gerah atau anxious mendengar suara laut yang menderu, tapi karena Nyala tidurnya nggak tenang, kegerahan. Kipas angin sudah dipasang, kelambu aman, dan jendela sudah dibuka lebar-lebar. Tetap saja beliau keringetan. Aku harus siaga untuk mengganti baju setiap kali basah. Masih paranoid terbayang-bayang kasus dugaan pneumonia Nyala tahun lalu. Serius, aku langsung merasa jadi ibu yang gagal karena membiarkan Nyala tidur ditemani kipas angin dan angin laut. Padahal, kan, nggak apa-apa, ya? aku yang terlalu parno.

Karena nggak mau mengulang kisah Nyala susah tidur, esoknya kami memutuskan pindah tempat menginap. Walau nggak di tepi pantai, setidaknya kamarnya pakai AC.

Day 2 dan seterusnya – Cimaja Square

Yang bikin seru sebenernya sesi motret lovebird, Alexis dan Amanda, di pinggir pantai. I swear to God they are very cute! dalam hematku, perpaduan Alexis dan Amanda sempurna banget dalam satu frame. Terlebih lagi, mereka juga easy going dan playful. Tipe pasangan yang kalau kalian lihat akan bikin kalian berkata : OMG, relationship goal! nggak sabar, deh, pengin edit setiap foto biar jadi makin kece.

Setelah seharian foto-foto, kami bergegas packing untuk pindah penginapan. Alexis menyarankan kami menginap di Cimaja Square, nggak jauh dari Biker’s Waroeng. Memang, ya, penginapan di sini ajaib-ajaib. Setelah semalam disambut penginapan bambu, sekarang kami harus jalan menyusuri pematang sawah yang panjang nan sempit sebelum sampai ke penginapan! woh! Seru banget, sawahnya rapi, pematangnya bersih. Penginapannya juga asyik. Kami pilih rumah yang ada dapur di bagian belakang supaya bisa masak-masak.

image2 (2)
Nyala dan Bu Cia Ketemu Cicit

Asik banget rasanya seharian duduk bergelantungan di hammock sambil ngeliatin sawah, not your every day view. Entah kenapa, di Cimaja semua jadi lebih puitis. Pas banget dengan mood summer fling yang sering aku tampilkan dalam cerpen. Bahkan, tulisan sesederhana ‘jalan lain ke pantai’ bisa terdengar sangat puitis di telingaku. Jalan lain ke pantai, bukan ke hatimu…Duh, apa, sih Bu Kenya, mulai, deh, hehe, mungkin jadi puitis karena kena debur ombak. Sepertinya, aku butuh tinggal di lingkungan yang dekat dengan sawah dan laut, dengan hammock menggantung dan bahan makanan yang ditanam di pekarangan rumah, seperti di sini.

Untuk Panji, Cimaja adalah rumah. Dia sekarang selalu pulang ke Cimaja, bukan lagi di Jakarta. Cimaja memang belum jadi tempatku pulang, tapi aku pasti akan balik lagi – terutama menginap di Cimaja Square, hehe! Perjalanan summer fling storiesku masih panjang, dan aku masih butuh ombak untuk menamatkan ceritaku.

 

 

 

 

Penulis pengidap PMDD, slow writing, devoted to process, because what is life but a long journey around the sun. Ngobrol, yuk! reach me @nyalaterang

1 Comment

Write A Comment