On Being Me

Catatan #memeliharakeriting : Aku Datang Berambut Keriting

Pinterest LinkedIn Tumblr

Waktu tahu kak Theoresia Rumthe membuat project #memeliharakeriting, aku langsung semangat banget pengin ikutan. Project #memeliharakeriting ini mendokumentasikan cerita perempuan tentang suka duka punya rambut keriting, seru, ya! instagramnya bisa dilihat di sini.

Saat menuliskan kisahku berambut keriting, aku sekaligus kilas balik ke masa-masa di mana punya rambut keriting terasa bagai kutukan. Sering aku pergi tidur dan berharap besok bangun dengan rambut yang lain, bukan rambut ini. Ternyata, berambut keriting itu perjalanan. Perjalanan yang mengantarku pada identitas diri yang harus dijaga sampai nanti.

Memiliki rambut keriting di tengah dunia yang berusaha meluruskan rambut itu memang gampang-gampang susah. Soal dijuluki rambut indomie atau keriting keribo sudah biasa. Salah satu hal yang susah adalah memilih kapster rambut. Pengalamanku, setiap kali potong rambut dan si kapster bertanya ‘kok nggak dilurusin aja rambutnya?’ hasil potongan rambutku pasti tidak sesuai keinginan – kalau tidak mau menyebutnya gagal. Selain memilih kapster, urusan sesederhana sisir menyisir rambut pun seakan jadi hal yang aneh. Kenapa, ya, orang berambut keriting identik dengan orang yang ‘belum sisiran?’ Apa orang-orang itu tidak tahu kalau messy look ini tidak bisa diubah dan sisir tidak akan membuat rambut keriting jadi ‘lurus’ atau ‘rapi’ sesuai standar mereka?

Duh, kubayangkan mereka yang menyuruhku sisiran akan kejang-kejang begitu tahu aku nggak punya sisir karena rambutku hanya kusisir dengan jari.

Bertahun-tahun yang lalu, urusan sisiran dan belum sisiran ini sempat membuat hatiku terluka dan mempertanyakan identitas. Saat itu aku baru lulus kuliah, sedang mencari pekerjaan dan kepengin banget jadi jurnalis TV. Aku datang ke stasiun TV untuk mengikuti tes kamera dan interview. Hari itu peserta ramai, aku mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya lancar menyampaikan reportase di depan kamera. Giliranku tiba. Saat aku sedang bersiap di depan kamera, seorang produser meneriakiku “Sisiran dulu, dong!” – lalu teriakan itu disambut gelak tawa orang-orang yang mendengar. Mungkin terdengar lucu, tapi tidak untukku. Kata-kata yang sudah aku persiapkan, hilang dari kepala. Hari itu aku berjuang sebisaku. Bukan untuk lolos interview atau mendapat pekerjaan. Tapi berjuang untuk meyakinkan diri sendiri bahwa berambut keriting itu bukan sesuatu yang salah. Saat itu aku belum tahu kalau rambut keriting ini bisa dibuat ‘sesuai standar kerapian’ jika ingin tes reportase di depan kamera. Tapi, meneriaki seorang peserta di depan banyak orang itu sungguh tidak pantas. Pada akhirnya, rambut keriting yang aku sisir dengan jari setiap hari ini, jadi pengingat untuk bersikap baik pada orang.
Aku jadi ingat masa SMPku dulu, saat itu rebonding dan smoothing naik daun. Teman-teman yang berambut keriting berlomba-lomba meluruskan rambut. Mereka jadi bangga karena rambutnya lurus bagai personel F4 (dan bangga karena bisa rebonding yang saat itu harganya mahal). Aku sempat tergelitik untuk ikut-ikutan rebonding. Saat minta uang ke ibuku untuk rebonding, beliau bertanya “Buat apa rebonding?”
“Biar rambutnya lurus”
“Terus kalau rambutnya sudah lurus kenapa?”
Aku jadi bertanya-tanya juga, kenapa ya kalau rambutku lurus? Apakah aku jadi merasa lebih baik? Untung ibu terus menerus meyakinkanku bahwa tidak perlu berambut lurus. Rambut keriting pemberian Tuhan ini baik dan cocok untuk karakterku.

Suatu sore, aku berjalan mengitari kompleks rumah dengan rambut keriting terurai dan tersibak-sibak ditiup angin. Seorang bapak yang duduk-duduk di teras rumah memperhatikanku dan bertanya “Dik, rambutnya asli atau buatan?”
Aku menjawab sambil berlalu “Buatan Tuhan, Pak”
Aku keriting dan aku bangga.

Kamu berambut keriting, juga? atau punya teman yang rambutnya keriting? Ikutan cerita di #memeliharakeriting yuk. Sila cek halaman instagramnya, ya. Atau hubungi kak Theo di twitter @perempuansore

Penulis pengidap PMDD, slow writing, devoted to process, because what is life but a long journey around the sun. Ngobrol, yuk! reach me @nyalaterang

Write A Comment