Baby

Anak Dengan Resiko Kejang Demam

Pinterest LinkedIn Tumblr

Dititipkan anak yang tipenya easy baby seperti Nyala adalah berkah luar biasa. Apalagi, Nyala tergolong anak yang jarang sakit. Aku sempat jumawa (pada akhirnya aku belajar bahwa proses menjadi ibu termasuk belajar agak tidak mudah jumawa) karena diberkahi kemudahan serupa itu. Aku selalu takut dengan cerita orang-orang tentang kejadian saat anak sakit, apalagi jika demam tinggi. Nyala pernah demam tinggi sampai 39.8, it was horrible, tapi berhasil kami lalui dengan menggunakan home remedy.

Cuma Tuhan yang tahu seberapa bencinya aku dengan obat pabrikan. Pengalaman-pengalaman terdahulu tentang obat-obatan, tentang sakitnya ibu, ternyata menjadi racun di dalam diri. Sebisa mungkin (saat itu: harus bisa!) aku tidak memberikan obat-obatan pabrikan untuk Nyala. Kalau sakit sedikit, pakailah home remedy. Dari mulai tumbukan segala macam rempah sampai berbagai jenis oil blend aku sediakan di rumah. Tidak ada ruang untuk paracetamol, apalagi ibuprofen. Semuanya aman lancar terkendali sampai pada suatu hari.

Sore itu sore yang biasa; setelah makan sore, kami bertiga jalan-jalan ke luar rumah menghirup udara segar di kebun sambil mencari kupu-kupu. Lalu aku menyadari kalau Nyala terlihat agak lemas. Ternyata tubuhnya hangat. Saat itu aku nggak terlalu peduli berapa suhu badannya karena kupikir semua akan seperti biasanya; setelah dioles bawang dan oil blend, suhu tubuh turun perlahan.

Nyala kami bawa masuk ke dalam rumah untuk dibaluri bawang dan oil blend. Lalu, kami bermain-main di playmat, membaca buku sambil makan cemilan. Tiba-tiba kulihat Nyala diam. Gesturnya seperti orang bengong dan duduknya agak membungkuk. Ada iler keluar dari mulut dan saat kuraba tubuhnya panas sekali. Nyala seperti nyaris pingsan. Aku goyang-goyangkan tubuhnya sambil kupanggil namanya berulang-ulang. Nyala merespon. Matanya menatap mataku, lalu ia minta menyusu. Kupikir, gestur bengong itu cuma reaksi tubuhnya karena sedang demam, namun ternyata bukan.

Setelah kejadian bengong, Nyala terlihat baik-baik saja. Ia masih bermain di playmat dan minta menyusu. Jam tidurnya juga tepat, hanya saja tubuhnya masih hangat dan nafasnya jadi lebih cepat.  Di sela tidurnya yang kurang nyenyak, Nyala menangis. Tiba-tiba matanya membelalak naik ke atas dan tubuhnya keras seperti kayu. Aku histeris! Ternyata ini yang namanya kejang, ada di depan mataku. Semua teori yang kubaca mengenai anak kejang lenyap. Panik, aku menggendong Nyala keluar kamar, berteriak seperti orang gila mencari bantuan. Dalam pelukanku, tubuh Nyala terasa begitu kaku. Fahim yang juga panik langsung menyalakan mesin mobil, dan kami pergi ke dokter terdekat. Sumpah demi Tuhan semesta alam, itu adalah detik-detik paling lama dalam hidupku.

Menangani Anak Dengan Resiko Kejang Demam

Hari itu, diketahui bahwa Nyala ternyata mengalami dua kali kejang demam. Gestur bengong dengan iler yang menetes dari mulut adalah bentuk lain kejang. Aku dan Fahim tidak serta merta mendapat penjelasan menangani anak dengan resiko kejang demam dari dokter-dokter yang kami sambangi. Baru setelah bertemu dengan Dokter Christine Natalia di Eka Hospital BSD, kami mendapatkan penjelasan mengenai penanganan anak dengan resiko kejang demam.

Dokter Christine bilang kalau aku harus siap siaga berjaga-jaga mencegah kejang demam sampai Nyala berusia tujuh tahun. Ya ampun, awalnya aku merasa seperti dikutuk tujuh turunan. Tujuh tahun itu lama, kan, ya? Ini bukan film macam 7 Years in Tibet yang bisa selesai dalam 140 menit. Dokter Christine lalu memberikan langkah-langkah penanganan kejang demam yang harus kuhafal di luar kepala.

Inti dari penanganan anak yang memiliki resiko kejang demam itu adalah pengaturan suhu. Kita harus menjaga suhu supaya stabil dan tidak naik terlalu tinggi. Caranya? pemberian paracetamol (suhu di atas 37.8), yang jika tidak bereaksi dilanjutkan dengan pemberian anal ibuprofen (jika suhu lebih dari 38.5). Ritual bebas kejang ini sungguh menghancurkan hati karena isinya obat-obatan semua. Tapi biasanya sambil kusambi juga dengan home remedy untuk menurunkan panas seperti kompres, rendam kaki dengan cuka, oles oil blend + bawang, minum kunyit dan sebagainya (home remedyku lengkap, kap!)

Kejang pertama Nyala saat usia 18bulan itu adalah kali pertama tubuh Nyala dimasuki berbagai jenis obat-obatan. Sekali masuk, masuknya banyak banget. Sekarang, tiap kali suhunya naik di atas batas, paracetamol langsung diberikan. Hati ini masih patah setiap kali melihat obat-obatan pabrikan masuk ke tubuh Nyala. Tapi bukankah ini juga bagian dari belajar menjadi ibu? To let go all of the things I can’t control, to accept things I can’t change.

Mulai hari itu – sampai sekarang dan lima tahun ke depan (atau paling tidak sampai aku menemukan solusi antikejang yang alami), satu kotak obat berisi termometer (infrared), paracetamol, anal ibuprofen, obat antikejang, stesolid dan oil blend selalu ada di dalam tasku. Ke mana pun aku pergi bersama Nyala, kotak itu menyertai, persis seperti doa seorang ibu untuk anaknya.Perlahan aku mulai paham kalau ini bukan kutukan. Ini hanya bagian dari perjalanan menjadi ibu yang salah satu tantangannya mencintai anak in her worst condition, unconditionally. 

Apakah di sini ada ibu-ibu yang punya anak dengan resiko kejang demam juga? Ngobrol, yuk. Siapa tahu menemukan solusi yang lebih alami untuk penanganan kejang demam.

Love,

Kenya

 

Penulis pengidap PMDD, slow writing, devoted to process, because what is life but a long journey around the sun. Ngobrol, yuk! reach me @nyalaterang

2 Comments

  1. ruth aprelia Reply

    hai kenya,
    salam kenal, boleh dicoba konsultasi ke dokter anakku, namanya dr. Endah Citraresmi. Beliau praktek di Kemang Medical Care dan Harapan Kita, beliau pro ASI dan RUM (rational used of medicine). Karena aku pun berusaha meminimalisir penggunaan obat-obatan, dan sedang mencari tahu ttg essential oil. Sehat selalu yaa, Nyala… 🙂

    • Halo Ruth! sepertinya kita temenan di FB ya? hehe thank you sarannya! aku sekarang jarang banget ke Jakarta, karena jauh hehe. Essential oil keren banget, tapi sayangnya, mereka cm bisa sampai taraf mencegah dan pengobatan ringan..
      semoga anakmu sehat ceria juga, ya, Ruth! 🙂

Write A Comment