Baby

Saat Nyala Ingin Keluar Dari Perut

Pinterest LinkedIn Tumblr

Tulisan ini ditulis beberapa hari setelah Nyala lahir.

Di sebuah sore, saat kehamilan memasuki 33 minggu, aku dan Fahim menanyakan pada Nyala di dalam perut “Nyala, kamu mau lahir tanggal berapa?” lalu, kami mulai menyebutkan tanggal-tanggal sebelum dan sesudah HPL (hari perkiraan lahir) di bulan Febuari. Percaya tidak percaya, Nyala menendang saat angka 11 dan 15 kami sebutkan. Pertanda apa, ya?

Aku dan Fahim sepakat untuk menunggu kelahiran Nyala dengan santai. Kalau lewat HPL, ya santai saja, HPL kan hanya perkiraan. Kami berpedoman pada falsafah Jawa yang mengatakan ‘bayi-bayi akan lahir pada waktunya’. Tapi pada kenyataannya, menunggu kelahiran bayi memang susah dibawa santai. Mau sesantai apa pun aku dan Fahim, pertanyaan “Udah?” , “Kapan?”, atau “Kok belum?” kerap berdatangan. Kami memutuskan untuk tidak menggubris pertanyaan-pertanyaan itu.

Lalu tibalah HPL yang ditunggu-tunggu, 10 Febuari 2015. Tidak ada gelombang rahim yang menerjang. Braxton hicks pun tidak mampir. Aku mengingat terus perkataan Mbak Erie –  bidan yang  membantu persalinan kami,  tentang kontraksi ‘Datanglah kemari, jika rasanya sudah bikin kamu nggak bisa tidur’. Intuitif sekali. Aku suka.

10 Febuari 2015

Jika kontraksi ibaratnya gelombang, maka hari itu perutku laiknya samudera yang tenang. Adem ayem saja seperti biasa. Aku dan Fahim berencana untuk final check-up  ke dokter Riyana Kadarsari.

11 Febuari 2015

Aku dan Fahim bertemu dokter Riyana. Saat itu, dokter Riyana menyarankan untuk periksa dalam alias VT (vagina toucher). Yes, you read it right, vagina toucher; jari dokter akan masuk ke dalam vagina untuk memeriksa bukaan. Aku nggak nyaman dengan VT namun dokter Riyana mengingatkanku “Yang akan keluar dari situ lebih besar dari jari, lho” – dan aku membuka kaki dengan pasrah.

Setelah VT, ketahuan kalau aku sudah pembukaan dua.  Ada darah menempel di sarung tangan plastik bu dokter dan whoa, ternyata pembukaan tidak selalu ditandai dengan flek di celana dalam, bisa saja darahnya ada di dalam. Hari itu  aku jadi tahu kalau pembukaan tak selalu sakit dan ternyata pembukaan bisa naik sampai berhari-hari.

12-14 Febuari 2015

Pembukaan without any pains. I feel great. I feel superb. I am ready to deliver a baby! beberapa hari ini aku jalan kaki banyak-banyak sambil dengerin lagu-lagunya Rumah Sakit.

15 Febuari 2015

But honestly, I never thought that I would feel that kind of pain. Pembukaan 2 yang mulus tanpa rasa sakit lagi-lagi hanya drill untuk naik ke bukaan-bukaan selanjutnya. Dini hari, gelombang itu datang. Tidur? Sekadar memejamkan mata pun aku tak bisa. Jadilah, pukul empat pagi, aku dan Fahim pamit untuk melahirkan. Hanya kami berdua saja. Aku mengenakan pakaian ala hippie; cropped top, sarung, plus gelang-gelang kesukaan. It made me feel great. Aku membayangkan akan melahirkan dengan damai sambil tersenyum. Lalu, Nyala akan hadir ke dunia dengan sekali tarikan nafas panjang. But I was wrong. Sesampainya di rumah bersalin mbak Erie, bukaanku sudah bukaan lima. Rasanya lima kali lipat dari yang kurasa dini hari. Aku mengingatan diriku terus menerus “You need this pain to deliver your baby” sambil berusaha mengatur nafas sampai 10 jam ke depan.

Persalinanku tidak mulus. The pain was so excruciating sampai aku lupa caranya bernafas dengan baik. That was the longest 10 hours in my life. Ternyata, memang dinding rahimku belum lunak benar, jadi memperlambat bukaan. Saat itu yang kubutuhkan hanyalah keyakinan bahwa bayi ini akan lahir.  Karena Yangkung sejenis clairevoyant dan wiseman di keluarga, aku bolak-balik menelfon Yangkung, menanyakan kapan bayi akan lahir. Jawaban Yangkung hanya “Kamu kurang sabar, nduk.. “

Masih adakah tempat untuk sabar ketika kontraksi menerjang tubuh? Proses melahirkan memang life-changing moment untuk perempuan. Dalam hematku, saat tubuh ini berusaha mengeluarkan tubuh baru dari dalam perut, itu adalah saat di mana aku merasa paling ‘sadar’ dan aware. I was aware of my unconsciousness. Sakit yang kurasakan sesungguhnya membuatku lebih terkoneksi dengan alam bawah sadar. Sampai sekarang, aku masih ingat betul hal-hal yang aku pikirkan saat proses melahirkan. Lucu, karena pikiran-pikiran itu bisa terbawa sampai jauh sekali… bahkan sampai ke hal-hal yang aku nggak percaya aku bisa memikirkannya. Nah, bila ada kawan yang bertanya bagaimana rasanya melahirkan, aku biasanya berseloroh; it was thin, the line between madness and dying.

Persalinanku dibantu oleh TAT (tapas accupressure technique) dari mbak Erie dan juga pijatan –pijatan dari pendamping mbak Erie yang bergantian menjagaku, Mbak Rida dan Tante Ririn. Seorang bidan senior yang dipanggil budhe ikut hadir membantu persalinan Nyala. Ternyata, traumaku belum tuntas betul. Tadinya, kami berniat untuk water-birthing. Namun karena kondisi leher rahim yang belum melunak, water-birthing berganti menjadi kasur-birthing. Ketubanku pecah di pembukaan delapan, sesaat setelah mbak Erie bermeditasi. Mbak Erie, yang saat itu sedang hamil besar, energinya luar biasa besar. Tak lama, Nyala pun lahir.

Ada bunyi ‘blup’ ketika perlahan kulihat ada bayi meluncur dari bawah sana; the sound that alert me that I have become a mother.cheap bns goldbuy bns gold

Nyala lahir tanpa tangis. Setelah tenggorokan Nyala dibersihkan dan kakinya disentil, barulah tangisnya merekah. Tanpa dibersihkan, Nyala langsung diletakkan di atas perut untuk inisiasi menyusu dini. OMG, she was so small and red and everything… meringkuk perlahan mencari cari puting payudara. Karena melahirkan di rumah bidan, proses IMD kulewati dengan sangat menyenangkan. Sekitar satu setengah jam Nyala ada di atas perut dan dadaku, mencari-cari puting susu.

Kami memutuskan untuk tidak memotong tali pusat Nyala sampai tali pusatnya putus sendiri (lotus birth). Dari hasil pembacaan kami, lotus birth manfaatnya banyak sekali. Kalau mengaitkannya dengan falsafah jawa, lotus birth memfasilitasi bayi untuk berpisah dari adik ari-ari dengan damai, jadi bayi akan legowo berpisah perlahan dengan teman di dalam perut. Perpisahan yang legowo ini membuat bayi anteng dan tenang dalam proses transisi berada di dunia.

Aku masih tidak percaya bahwa ada tubuh lain berasal dari dalam tubuhku. Oh,  payudara ini terus menerus mengeluarkan susu. Bajuku basah berulang kali, dan ada bayi menyusu lima menit sekali 🙂

Penulis pengidap PMDD, slow writing, devoted to process, because what is life but a long journey around the sun. Ngobrol, yuk! reach me @nyalaterang

5 Comments

    • hello Mbak April, gelombang rahim memang luar biasa, ya! tapi nggak bikin kapok, ya, walau begitu banget rasanya 🙂 terima kasih sudah mampir mbak, salam

  1. Wow senang bacanya mba, menegangkan pas baca bagian “vaginal toucher” ? Nama dek Nyala cantik sekali ya. Sehat2 terus ya dek Nyala ?

  2. Halo Kenya, salam kenal. Nyasar ke blog ini setelah cari info tentang essential oil dan baca tentang proses lahirnya Nyala dengan lotus/gentle birth benar2 berkah dan mukjizat yang luar biasa. Nyala pinter yaa lahir di tanggal bagus 15.02.2015. Semoga sehat terus ya nak…..

Write A Comment