Siap-siap Jadi Nenek di Usia Muda

“I think she is growing up and so begins to dream dreams, and have hopes and fears and fidgets, without knowing why, or being able to explain them” – Louisa May Alcott

Yangti, eyang putriku, sekarang sudah delapan puluh tiga tahun usianya. Ia lahir tanggal tiga bulan tiga tahun tiga puluh tiga, begitulah caranya menjelaskan hari kelahirannya. Yangti cukup bangga dengan tanggal kelahirannya yang cantik. Kalau zaman sekarang banyak orang yang berburu tanggal cantik untuk bertunangan, menikah atau melahirkan, Yangti sudah memilikinya sedari dulu. Lahir di tanggal cantik itu alami buat Yangti, sama dengan menjadi tua.

Sayangnya, banyak yang menganggap tua itu adalah penyakit. Tidak semua anggota keluarga bisa menerima Yangti yang sudah menua. Ada beberapa orang yang menganggapnya menyusahkan. Padahal, menua adalah proses. Sama seperti melahirkan atau anak kecil yang tumbuh dewasa. Yangti yang delapan puluh tiga tahun setiap hari semakin menua seiiring berjalannya waktu. Hal-hal yang terkait proses menua pun hinggap satu per satu. Yangti sering mengulang-ulang cerita, namun hanya kejadian-kejadian yang membekas betul dalam hatinya. Kemudian, lupa menjadi kata favoritnya ketika ditanya tentang banyak hal lainnya.

“Yangti pelupa..”, kadang-kadang aku meledek

“Namanya juga sudah tua..”, Yangti mengaku sambil terkekeh. Rupanya ia sadar kalau sudah tua.

Yangti memang sudah tua dan pikun, tetapi aku senang menghabiskan waktu bersamanya. Sejak kecil, aku memang dirawat oleh Yangti ketika Ibu sibuk bekerja. Namun hubungan akrab dari kecil bukanlah satu-satunya alasan untuk tetap akrab dengan seseorang yang sudah menua. Aku senang mendengarkan cerita-cerita Yangti, walau dalam sehari ia bisa mengulangnya lebih dari lima kali. Cerita kesukaannya: tentang ayahnya yang dulu ditembak Belanda, tentang rumah yang juga diberangus habis, dan tentang kelahiran anak ke-lima. Trauma dan kebahagiaan memang beda tipis, ya. Sama-sama membekas di hati dan mengendap di alam bawah sadar.

Mendengar cerita-cerita Yangti sambil melihat artefak peninggalan masa lalu (baca: album foto, buku catatan, dan sebagainya) sedikit banyak memberikan gambaran padaku tentang masa muda Yangti dulu. Orang yang sekarang duduk di sebelahku ini, orang yang sudah pikun dan keriputnya tak terhitung lagi, dulunya adalah perempuan muda super aktif dengan segudang kegiatan. Yangtiku jago sekali olahraga, terutama atletik. Ia beberapa kali ikut kejuaraan PON dan dapat medali.  Yangti juga ahli di dapur, aktif dalam PKK, jadi anggota paduan suara, instruktur senam dan juga jago menjahit. Masakan Yangti enak-enak, apalagi kaasstengels dan opor ayamnya. Baju jahitan Yangti juga apik, tak jarang aku dibuatkan baju dari bahan-bahan lucu. Sering aku diajak ikut Yangti ikut arisan atau senam pagi seminggu tiga kali di GOR. Yangti sungguh nenek sekali. Maksudnya, kegiatan dan aktifitas Yangti sangat cocok dengan citra nenek yang  banyak beredar; jago jahit, pintar masak, punya resep keluarga, bisa bahasa Belanda. ..ah, Yangti berhasil memberikan pengalaman menjadi cucu yang menyenangkan. Karena Yangti, masa kecilku jadi seru.

Flashback mengenang Yangti muda dan masa kecilku dulu cukup membuatku berefleksi. Sekarang aku sudah dewasa, sedang melalui proses hidup yang menurutku tak terelakkan. Suatu hari nanti aku juga akan jadi nenek. Apa aku bisa menjadi nenek seperti Yangti dan memberikan pengalaman menyenangkan untuk cucuku nanti? Apalah aku ini jika dibanding Yangti? Walau (setidaknya) aku bisa menulis tapi aku tidak bisa menyanyi.  Jahit pun tidak bisa, bahasa Belanda apalagi. Cocokkah aku menjadi nenek? Siapkah aku menjadi nenek nanti? Aku memandang keriput-keriput di wajah dan tangan Yangti yang tak terhitung banyaknya. That’s how much I love her.

I blog, therefore I am

Leave a Reply